SHOLAT IDUL ADHA DI DESA SUKAMULYA, KECAMATAN TUKDANA, KABUPATEN INDRAMAYU

Suasana Hari Raya Iduladha di Desa Sukamulia, Kecamatan Tukdana, Kabupaten Indramayu, berlangsung penuh kekhidmatan dan kebersamaan. Pagi yang sejuk selepas hujan malam menyelimuti desa dengan udara segar dan aroma tanah basah. Embun masih tampak menempel di dedaunan pohon yang tumbuh rindang di sepanjang jalan kampung. Namun ketenangan pagi itu perlahan berubah menjadi semarak ketika gema takbir mulai berkumandang dari pengeras suara Masjid Jami Almuhajirin.

Warga dari berbagai penjuru desa mulai berdatangan menuju lokasi pelaksanaan salat Iduladha. Kaum pria mengenakan sarung dan peci sambil membawa sajadah serta tikar sebagai alas salat. Anak-anak hingga orang tua tampak berjalan bersama menuju area masjid dengan wajah penuh sukacita menyambut hari besar umat Islam tersebut.

Meski Masjid Jami Almuhajirin masih dalam tahap pembangunan dan belum sepenuhnya dapat digunakan untuk kegiatan ibadah berjamaah, hal itu tidak mengurangi semangat masyarakat. Panitia pelaksana menyiapkan tenda-tenda besar di halaman depan masjid hingga menutupi sebagian jalan beton di sekitar lokasi. Area sederhana itu disulap menjadi tempat ibadah yang mampu menampung ratusan jamaah.

Pelaksanaan salat Iduladha berlangsung khusyuk di tengah lantunan takbir yang terus menggema. Suara imam dan jamaah berpadu menciptakan suasana religius yang terasa hangat dan penuh makna. Dalam khutbahnya, khatib menyampaikan pesan mendalam mengenai arti ibadah kurban dalam kehidupan umat Islam.

Khatib menjelaskan bahwa ibadah kurban bukan semata-mata menyembelih hewan, melainkan bentuk ketaatan, keikhlasan, dan ketakwaan kepada Allah SWT. Nilai utama dari kurban adalah pengorbanan dan kesediaan umat Islam untuk mendekatkan diri kepada Sang Pencipta. Pesan tersebut diperkuat dengan pembacaan Surah Al-Hajj ayat 37 yang menegaskan bahwa daging dan darah hewan kurban tidak akan sampai kepada Allah, melainkan ketakwaan dari orang yang melaksanakannya.

“Yang diterima Allah bukanlah daging dan darah hewan kurban, tetapi ketakwaan dan keikhlasan umat-Nya,” ujar khatib di hadapan jamaah.

Khutbah itu juga mengajak masyarakat menjadikan momentum Iduladha sebagai sarana memperkuat solidaritas sosial dan kepedulian terhadap sesama. Pembagian daging kurban dinilai bukan hanya bentuk ibadah, tetapi juga upaya mempererat hubungan antarwarga serta membantu masyarakat yang membutuhkan.

Warga mengaku bersyukur dapat kembali merayakan Iduladha secara bersama-sama dalam suasana aman dan damai. Meski fasilitas masjid belum rampung sepenuhnya, semangat gotong royong masyarakat terlihat kuat. Sejumlah warga turut membantu menyiapkan tempat salat, mengatur parkir kendaraan, hingga memastikan jalannya kegiatan berlangsung lancar.

Perayaan Iduladha di Desa Sukamulia menjadi gambaran nyata bagaimana nilai religius, kebersamaan, dan tradisi masyarakat tetap terjaga di tengah keterbatasan fasilitas. Gema takbir yang berkumandang sejak pagi seolah menjadi simbol persatuan dan rasa syukur warga dalam menyambut hari raya kurban.

Dengan suasana yang sederhana namun penuh makna, Iduladha tahun ini meninggalkan kesan mendalam bagi masyarakat Desa Sukamulia. Tidak hanya sebagai perayaan keagamaan, tetapi juga momentum mempererat ukhuwah dan menanamkan nilai ketakwaan dalam kehidupan sehari-hari.

Posting Komentar

0 Komentar