TEKNOLOGI MOLEKULER KESEHATAN

Inovasi Molekuler Indonesia (IMI) Audiensi dengan Kemenkes RI, Bahas Terobosan "Intelligent Gas Delivery System"

​JAKARTA, KUPAS.TV — Yayasan Inovasi Molekuler Indonesia (IMI) menggelar diskusi dan audiensi strategis bersama jajaran Kementerian Kesehatan Republik Indonesia (Kemenkes RI) di Gedung Adhyatma Kemenkes RI, Jakarta, Rabu (2/9).

Pertemuan yang berlangsung di Ruang 214A Blok C Lt. 2 ini berfokus pada pengenalan serta pemanfaatan teknologi molekuler terbaru di bidang kesehatan nasional.

​Delegasi IMI dipimpin langsung oleh Prof. Drs. Sutiman Bambang Sumitro, SU, D.Sc, Guru Besar Universitas Brawijaya sekaligus penemu inovasi Intelligent Gas Delivery System (IGDS) berbasis Nano Bubble Reverse Aging. Turut hadir dalam jajaran pengurus IMI antara lain Kan Eddy (Ketua Umum Reverse Aging Homeostasis / RAHO Club sekaligus Pendiri Yayasan IMI), dr. Subagyo, Sp.BTKV (K) (Director of Basic Science and Scientific Knowledge IMI), Prasetyo Elnimus (RAHO Premier Business Management), serta Kapten Sar (RAHO Business Relation Officer). 

​Sementara itu, pihak Kemenkes RI diwakili oleh jajaran Direktorat Jenderal Farmasi dan Alat Kesehatan (Dirjen Farmalkes), yang dihadiri oleh perwakilan dari unit ketahanan farmasi, tim Binomika, Tim Kerja (Katim), Pasakas, dan Project Management Office (PMO) Kemenkes RI.

Jajaran pengurus Yayasan Inovasi Molekuler Indonesia (IMI) saat memaparkan teknologi Nano Bubble Reverse Aging di hadapan jajaran Ditjen Farmalkes Kemenkes RI​, 
Mendorong Kemandirian Teknologi Kesehatan Berbasis Biologi Molekuler

​Dalam paparan audiensinya, Ketua Umum RAHO Club KanEddy menekankan pentingnya sinergi antara akademisi, penemu lokal, dan regulasi pemerintah untuk mempercepat hilirisasi riset kesehatan berbasis teknologi molekuler.

​Teknologi IGDS (Intelligent Gas Delivery System) yang dikembangkan oleh Prof. Sutiman memanfaatkan nano bubble untuk mendukung proses regenerasi sel (reverse aging) dan homeostasis tubuh. Teknologi ini diharapkan mampu menjadi modalitas baru dalam mendukung ketahanan alat kesehatan serta penanganan medis mutakhir di Indonesia.

​"Sinergi riset molekuler dan kebijakan kementerian menjadi kunci utama agar inovasi anak bangsa dapat dimanfaatkan secara luas oleh masyarakat," ujar KanEddy di sela-sela diskusi.

​Pihak Kemenkes RI menyambut positif inisiatif riset ini sebagai bagian dari penguatan ekosistem ketahanan farmasi dan alat kesehatan dalam negeri. Audiensi ditutup dengan komitmen kedua belah pihak untuk menindaklanjuti potensi kerja sama riset dan pengujian klinis sesuai regulasi yang berlaku.

Posting Komentar

0 Komentar