UNRIYO YOGYAKARTA GELAR PENDALAMAN WAWASAN KEBANGSAAN

Hj. R. Ngt. Susilawati Susmono (Foto: Istimewa)

Yogyakarta - Menindaklanjuti kerjasama Lembaga Pendidikan Tinggi Ilmu Tauhid (LPTIT) Tunas Sejati dengan Universitas Respati Yogyakarta (UNRIYO), Dr.rer. nat Hj. Krisnani Setyowati dan Hj. R.Ngt. Susilawati Susmono tampil menjadi narasumber tentang "Wawasan Kebangsaan" pada kegiatan Pengenalan Kehidupan Kampus Mahasiswa Baru (PKKMB) Tahun 2026 di Kampus 1 Universitas Respati Yogyakarta (UNRIYO), Rabu 23/9 2026.

Dr.rer.nat Hj. Krisnani Setyawati (Direktur Lembaga Pendidikan Tinggi Ilmu Tauhid Tunas Sejati) mengemukakan di hadapan 350 mahasiswa, solusi mendasar permasalahan diri dan bangsa dapat dilakukan melalui Laboratorium Karakter Susilawati Susmono (LKSS). Ada skema “3 in 1” di dalam LKSS, yaitu Metodologi Ilmiah Mengenal Diri (mikro) – Nation & Character Bulding (makro), Metodologi Ilmiah Integritas Diri (mikro) – Integritas Bangsa (makro), dan Metodologi Ilmiah Kematangan Jiwa Pancasila (mikro) – Kematangan Pancasila (makro).

Lebih lanjut Krisnani menegaskan, ketiga skema ini akan berevolusi di dalam diri menghasilkan Metodologi Ilmiah Kedaulatan Diri (mikro) – Kedaulatan Bangsa (makro), yang bermakna berdaulat dalam hubungan dengan sesama manusia, alam semesta dan Tuhan Yang Maha Esa. Kedaulatan mengandung filosofi bendera Merah Putih dan Hakikat Merah Putih Berkibar Dalam Diri.

Sedangkan Seniman, sastrawan, budayawan dan cendekiawan Hj. Susilawati Susmono mengemukakan 5 hal yang sangat mendasar yang harus dipahami, dikenali, dan dirawat dengan sebaik-baiknya agar mencapai kesuksesan hidup, yaitu: mesin raga hidup, mesin jiwa hidup, mesin akal hidup, mesin hati hidup, dan mesin ruhani hidup.

Lebih lanjut Susilawati Susmono yang juga Pendiri dan Pemilik Yayasan Riyadhatul Ihsan/Yayasan Tunas Sejati/Yayasan Serat Holistik Kehidupan itu menegaskan, semua mesin harus dikenali dan dirawat, jangan sampai mesin raga, mesin jiwa, mesin akal, mesin hati dan mesin ruhani rusak. Diibaratkan mobil dinyalakan di garasi, tidak dijalankan, maka mesin akan menjadi rusak dan karatan. Suatu analogi yang mudah dicerna oleh mahasiswa namun bermakna sangat dalam di dalam menjalani kehidupan.

"Tanamkan tekad bahwa hari ini aku harus berhasil. Jangan menoleh kiri dan kanan. Tanamkan – aku akan berhasil dengan jati diriku sendiri! Kita harus bergerak dari titik 1, 2, 3 dan seterusnya untuk mencapai puncak keberhasilan. Setiap diri pasti ingin memiliki masa depan yang cerah.” Ajak Susilawati Susmono yang telah berkarya 40 tahun menghasilkan 8.215 karya digerai di Museum Serat Holistik Kehidupan Susilawati Susmono di Ngaglik, Sleman, ISAQ Center & Galery Jakarta dan Bangka. (RBW)

Posting Komentar

0 Komentar