MEMAKNAI FILOSOFI "GANDRIK PUTUNE KI AGENG SELO" AGAR AMAN DARI PETIR

Penulis: Dr.(HC) R.Budi Ariyanto Surantono (Ki Ariya Wira Sentana Al Djawi) - (*)

 
Saat kita (generasi tahun 1980 an) masih kecil dulu, para orang tua sering mengajarkan  papali (ajaran-ajara  luhur) yang dibalut  sanepo (bahasa kiasan) yang sederhana namun memiliki makna mendalam.
 
 Salah satu ajaran kearifan lokal  yang sering kita dengar  adalah, apabila  terjebak hujan deras diiringi petir ucapkan kalimat "Gandrik, Aku Putune Ki Ageng Selo".
 
Generasi Y dan Z barangkali sudah tidak lagi mengenal "kalimat sakti" itu, namun bagi  yang saat ini berusia diatas 45 tahun kemungkinan masih mengingatnya.
 
 Dijaman dahulu,  Eyang wali dan  para aulia seringkali mengajarkan kalimat sederhana,  akrab ditelinga dan mudah diucapkan  oleh lidah orang Jawa. Misalnya, ketika  gempa,  kita diminta ucapkan  "Kokoh Bakoh....Kokoh Bakoh" berkali-kali didepan rumah kita  hingga gempa berhenti.
 
Kalimat "Kokoh Bakoh" berarti Kuat...Kokoh....Perkasa...yang mengandung doa, harapan dan keyakinan bahwa rumah kita tetap kokoh tegak berdiri walau diguncang gempa.
 
Dalam konteks selamat dari hujan dan petir, Eyang  kita mengajarkan kalimat "Gandrik, Aku Iki Putune Ki Ageng Selo" . Itupula yang saya lakukan sejak kecil dan bahkan hingga saat ini.  Alam  bawah sadar  saya selalu mengucapkan kalimat itu ketika mendengar suara petir menggelegar.
 
Pertanyaannya sekarang, apa sih yang disebut dengan "Gandrik"  itu dalam konteks Ilmu pengetahuan saat ini ?. Karena anak anak generasi Y dan Z tentu sudah tidak bisa menerima penjelasan tanpa dasar seperti jaman saya dulu.
 
Gandrik adalah jenis pohon dengan nama latin Bridelia monoica.  Saat ini pohon Gandrik masuk kategori tanaman langka yang hanya tumbuh ditempat tempat tertentu.
 
 Pohon Gandrik  melegenda karena dilakukan dengan kisah Ki Ageng Selo,  tokoh spiritual dari Desa Sela, Grobogan, Jawa Tengah yang kemudian menjadi guru dan Leluhur Raja Raja Mataram Islam.
 
Pohon Gandrik memiliki  makna simbolis yang mendalam terkait perlindungan, pengendalian diri,  kesaktian dan kearifan yang melekat pada  sosok Ki Ageng Selo.
 
Dalam kisahnya, Ki Ageng Selo dipercaya mampu menangkap dan menaklukkan petir kemudian mengikatnya di pohon Gandrik.

Bahkan pohon Gandrik saya yakini mampu  menangkap dan mengikat  energi jahat (negatif) dan kemudian "membenamkannya"  kedalam tanah sehingga sangat cocok ditanam di sekitar rumah kita.

Pertanyaannya sekarang, apakah pohon Gandrik dimasa sekarang benar-benar bisa digunakan sebagai sarana sebagai  "penangkal petir" ?

Inilah yang sedang saya pelajari bersama teman-teman aktivis metafisika dan para ilmuan terhadap unsur unsur yang dimiliki pohon Gandrik.

Karena saya yakin, Eyang Ki Ageng Selo memilih pohon Gandrik berdasarkan naluri kesaktian dan petunjuk dari Allah Swt, bahwa pohon Gandrik adalah pohon yang paling cocok untuk mengikat petir.

Jadi saya  yakin, Pohon Gandrik  memiliki  kemanpuan "mengikat"  energi petir seperti fungsi grounding pada penangkal petir modern saat ini. Sehingga  dahulu Eyang pernah cerita, jika dijalan sedang hujan deras dan ada petir carilah pohon Gandrik dan berteduh disana.

Tentu saja masih dibutuhkan penelitian ilmiah untuk meyakinkan hal tersebut. Namun kewaskitaan leluhur sekelas wali dan aulia banyak terbukti.   Selama ini  saya sering mengajak para ilmuan untuk membuktikan secara ilmiah hal hal yang dianggap mitos.

 Salah satunya meneliti unsur  tanah yang menurut mitos sebagai tempat   Sunan Kalijaga menancapkan tongkat  kemudian muncul mata air.  Setelah diteliti secara ilmiah,  ternyata memang unsur tanah nya "istimewa" berbeda dengan tanah disekitarnya. Itulah kewaskitaan Eyang Sunan Kalijaga.

Jadi saya yakin, Kewaskitaan Eyang Ki Ageng Selo mewariskan hikayat Pohon Gandrik dan kisah "kesaktian" menaklukkan petir ini bukan sekedar mitos belaka, namun  warisan ajaran luhur serta  petunjuk leluhur terhadap  keistimewaan pohon Gandrik yang bisa kita gali potensinya dimasa kini untuk kemaslahatan masyarakat.

 

(*) Ki Ariya Wira Sentana Al Djawi, Tedhak Turun Darah Dalem Ki Ageng Selo Grad XVII, Pangersa Paguyuban Trah Wayah Ki Ageng Selo

Posting Komentar

0 Komentar